<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7815043427107780643</id><updated>2011-07-30T21:14:59.333-07:00</updated><category term='Yield grade'/><category term='Potongan primal kakas'/><category term='Komunikasi'/><category term='Sosis Vs Meat loaf'/><category term='Pagi Cerah'/><title type='text'>Say's</title><subtitle type='html'>It's just me wishing you a Great Day!!!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mudeaje.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7815043427107780643/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mudeaje.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>mude aje</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00451268543593313039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_iYALs3CXeYA/SMafLiIkGKI/AAAAAAAAABM/bjGGC8p6pto/S220/foto+mude2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7815043427107780643.post-471699966210166055</id><published>2009-12-11T07:05:00.000-08:00</published><updated>2009-12-11T07:06:12.457-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Mata Kuliah : Teknik Pengelolaan Limbah Perternakan &lt;br /&gt;Tanggal : 1 Desember 2009&lt;br /&gt;Dosen  : Ir. Salundik. M. Si &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KUALITAS AIR DI BARA IV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disusun Oleh :&lt;br /&gt;Kelompok 1&lt;br /&gt;   Asep Priatna K D 14051399&lt;br /&gt;Mahmudah  D 14060464&lt;br /&gt;Risma Sudarwanti D 14060512&lt;br /&gt;Alif Rokhman  D 14060523&lt;br /&gt;Lutfi Setyo W  D 14060574&lt;br /&gt;Dewi Sunaryo  D 14061004&lt;br /&gt;Rika Juliani  D 14061007&lt;br /&gt;Melani   D 14061442&lt;br /&gt;Ahmad Nur R U D 14061988&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN&lt;br /&gt;FAKULTAS PETERNAKAN&lt;br /&gt;INSTITUT PERTANIAN BOGOR&lt;br /&gt;2009 &lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Latar Belakang&lt;br /&gt;Air merupakan sumber daya alam yang diperlukan untuk pemenuhan kebutuhan hajat hidup orang banyak bahkan untuk semua makhluk hidup. Kebutuhan akan air ini semakin meningkat sejalan dengan laju pertumbuhan penduduk, meluasnya perkembangan pembangunan, pengembangan industri, pertanian.,peternakan dan sektor lain yang berlangsung pesat.&lt;br /&gt;Masalah utama yang sering dihadapi adalah mengenai kuantitas air yang semakin berkurang dan kualitas air yang menunjukkan kelayakan air dapat digunakan dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Kegiatan industri, pemukiman, domestic dan kegiatan lainnya berdampak negatif terhadap sumber daya air. Kondisi ini dapat menimbulkan gangguan, kerusakan dan bahaya bagi semua makhluk hidup yang bergantung pada air. Adanya pengelolaan dan perlindungan air secara seksama sangat diperlukan. Salah satu langkah pengelolaan yang dilakukan adalah pemantauan dan interpretasi data kualitas mencakup kualitas fisika, kimia dan biologi. &lt;br /&gt;Peternakan dan industri sebagai salah dua penyumbang limbah yang cukup besar, umumnya membuang limbah ke sungai. Limbah-limbah ini akan memperngaruhi kualitas air yang digunakan manusia untuk memenuhi hajat hidupnya seperti untuk minum dan mandi, begitu pun pada makhluk hidup lainnya, air merupakan sumber pemenuhan kebutuhan hidup. Oleh karena itu diperlukan suatu usaha perlindungan agar air tetap dapat dimanfaatkan dengan baik oleh manusia serta makhluk lain. Selain itu juga diperlukan pengetahuan untuk menganalisis kualitas air, untuk menentukan kelayakan air yang digunakan berdasarkan pengguanannya. &lt;br /&gt;Tujuan&lt;br /&gt;Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari kadar kualitas air di sekitar wilayah kampus IPB  Darmaga Bogor berdasarkan parameter COD, NH4, NO2, dan NO3 serta banyaknya koloni bakteri dalam air tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;METODA&lt;br /&gt;Materi&lt;br /&gt;Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah botol sampel, Kemmerer bottle sampler dengan parameter COD, NH4, NO2, dan NO3, kertas test pack untuk mengukur koloni bakteri dalam air dan kertas indicator warna. Sedangkan bahan yang digunakan adalah air dan bahan kimia untuk analisis kualitas air sesuai dengan metode standar APHA (American Public Health Association) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosedur&lt;br /&gt;Langkah awal yang dilakukan dalam praktikum ini adalah pengambilan sampel air yang diambil dari daerah Bara 4. Sampel air tersebut kemudian diujikan pada boto-botol sampel yang berisi bahan kimia dengan parameter COD, NH4, NO2, dan NO3. Setelah air dimasukkan, kemudian dilihat perubahan warna yang terjadi pada air. Perubahan warna dari air ini yang dibandingkan dengan kertas indicator warna yang menentukan kadar COD, NH4, NO2, dan NO3 dalam air tersebut. Pengukuran jumlah koloni bakteri dalam air diukur dengan cara mencelupkan kertas test pack ke dalam sampel air, kemudian kertas tersebut disimpan selama 3 hari di dalam suhu tubuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DO (Dissolved Oxygen)&lt;br /&gt;Dissolved Oxygen merupakan oksigen yang terlarut di perairan dipengaruhi oleh pergerakan massa air, aktivitas fotosintesis, respirasi dan limbah yang masuk ke dalam air (Boyd, 1990; Nemerow, 1991; Effendi, 2003). Nemerow (1991) mengatakan bahwa kadar oksigen terlarut dalam perairan yang mencapai 0,5 mg/l termasuk perairan yang tercemar. Adanya dekompsisi bahan organik dan oksidasi bahan organik di suatu perairan dapat mengurangi kadar oksigen terlarut sehingga dapat mengganggu metabolisme organism sungai. Populasi organisme di sungai yang meningkat berdampak pada peningkatan penggunaan oksigen terlarut sehingga mengurangi kadar oksigen terlarut di perairan (Williams, 1979). Kadar oksigen terlarut di perairan yang baik untuk kenglangsungan hidup biota biasanya lebih dari 5 mg/l (Nemerow, 1974). Kadar oksigen yang rendah pada perairan akan membahayakan organisme akuatik karena akan meningkatkan toksisitas zinc, copper, lead, sianida, hydrogen sulfide dan ammonia. Masuknya air tawar dan air laut secara teratur ke dalam estuari yang dangkal mendukung terpenuhinya kadar oksigen di dalam perairan. Kelarutan oksigen dalam air berkurang dengan naiknya suhu dan salinitas, jumlah oksigen dalam air (Nybakken, 1992). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengukuran Bahan Organik&lt;br /&gt;Pengukuran bahan organik yang dilakukan dengan cara oksidasi secara kimia dapat menjadi lebih singkat. Oksidasi ini sering disebut dengan uji Chemical Oxygen Deman (COD). Pengukuran COD pada suatu perairan menggambarkan seberapa besar jumlah total oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi secara kimiawi bahan organik yang biodegradable (terdegradasi secara biologi) maupun yang non- biodegradable (tidak terdegradasi secara biologi) menjadi CO2 dan H2O (Boyd, 1990; Boyd dan Tucker, 1992; Nemerow, 1991). Pada perairan tercemar biasanya memiliki nilai lebih dari 200 mg/l dan pada limbah industri mencapai 60000 ml/l (UNESCO/WHO/UNEF, 1992 in Effendi, 2003). Pengukuran COD didasarkan pada prinsip bahwa hampir semua bahan organik dapat dioksidasi menjadi karbondioksida dan air dengan bantuan oksidator kuat K2Cr2O7 (Kalium dikromat) dalam suasana asam. Oksidator ini diperkirakan dapat mengoksidasi bahan organik sekitar 95-100% ( Effendi, 2003; Ginting, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nitrogen&lt;br /&gt;Nitrogen di suatu perairan dapat berasal dari nitrogen dalam bentuk gas (N2) dan sebagian besar telah diubah oleh mikroorganisme melalui proses fiksasi biologi. Bentuk nitrogen di perairan antara lain amonia (NH3), nitrit (NO2), nitrat (NO3), amonium (NH4+) serta sebagian besar N yang berkaitan dalam organik komplek (Alaerts dan Santika, 1987). Senyawa nitrogen dalam perairan berasal dari luar (allochthonous) yaitu presipitasi tanah yang mengandung senyawa dan amonia dan limpasan permukaan, limbah industri, rumah tangga dan pertanian. Senyawa nitrogen yang  berasal dari dalam air  (allochthonous) berawal dari proses perombakan yang dilakukan oleh bakteri ( Pescod, 1973; Knox dan Miyabar, 1984). Pada dasar perairan kemungkinan terdapat amonia dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan perairan diatasnya karena oksigen terlarut pada bagian dasar relatif lebih kecil (Welch, 1952). &lt;br /&gt; Nitrit merupakan bentuk peralihan antara amonia dan nitrat (nitrifikasi) serta antara nitrat dan gas nitrogen (denitrifikasi). Nitrit biasanya ditemukan dalam jumlah sedikit di perairan dan bersifat tidak stabil jika terdapat oksigen. Pada kondisi oksigen yang cukup (oksik) nitrit akan berubah menjadi nitrat, sedangkan pada kekurangan oksigen (anoksik) nitrit berubah menjadi amonia. Perubahan ini karena nitrir merupakan nitrogen yang tidak stabil (Novonty dan Olem, 1994). Nitrit akan cepat berubah menjadi nitrat melalui oksidasi. Nitrit merupakan senyawa tidak stabil yang merupakan bentuk peralihan antara amonia dengan nitrat dengan bantuan bakteri ( Basmi, 1994). &lt;br /&gt; Ion nitrat (NO3) merupakan bentuk senyawa nitrogen dominan. Konsentrasi nitrat di suatu perairan diatur dalam proses nitrifikasi sedangkan nitrifikasi merupakan proses oksidasi amonia yang berlangsung dalam kondisi aerob. Oksidasi nitrit menjadi nitrat dilakukan oleh bakteri Nitrobacter sp. Proses nitrifikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu keberadaan senyawa beracun dalam air, suhu, derajat keasaman (pH), kandungan oksigen terlarut dan salinitas. Kadar nitrat diperairan yang tidak tercemar biasanya lebih tinggi dari amonium (Novonty dan Olem, 1994). Kadar nitrat yang melebihi 0,5 mg/l menggambarkan terjadinya pencemaran yang berasal dari aktivitas manusia dan tinja hewan. Nitrat merupakan produk akhir dari proses oksidasi biokimia amonia. Konsentrasi nitrat di perairan dikontrol dalam proses nitrifikasi yang merupakan proses oksidasi senyawa amonia daalam kondisi aerob oleh bakteri autrotof. Pada perairan yang mengalami banjir &lt;br /&gt;kandungan nitratnya akan meningkat secara nyata (Hasan, 1993).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nitrifikasi&lt;br /&gt;Nitrifikasi merupakan suatu proses oksidasi ensimatik yang dilakukan oleh sekelompok jasad renik/bakteri dan berlangsung dalam dua tahap yang terkoordinasikan. Masing-masing dilakukan oleh bakteri/jasad renik yang berbeda pada tahap-tahapan proses nitrifikasi (Mas’ud, 1993), sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap pertama (nitrisasi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  oksidasi&lt;br /&gt;2 NH4 + 3 O2                                         2 HNO2 + 2 H2O + E (79 kalori).&lt;br /&gt;  enzimatik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap kedua (nitrisasi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  oksidasi&lt;br /&gt;2 HNO2 + O2                                            2 HNO3 + E (43 kalori).&lt;br /&gt;  enzimatik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menurut Rompas (1998), bakteri autotrofi (bakteri nitrifikasi) dapat menggunakan N-anorganik untuk melakukan nitrifikasi, seperti genera bakteri Nitosomonos, Nitrosococcus, Nitrosospira, Nitrosovibrio, dan Nitrosolobus. Pada proses tahap pertama reaksi berlangsung dari ammonium ke nitrit yang melibatkan bakteri Nitrosomonos dan Nitrosococcus dengan persamaan reaksi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NH4 + 3/2 O2                                           NO2 + H2O + 2 H E = - 65 kcal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan reaksi kedua diperankan oleh bakteri Nitrobacter dan Nitrococcus spp yang melakukan oksidasi dari nitrat ke nitrit dengan persamaan reaksi sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NO2 + ½ O2     NO3 + E = - 18 kcal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parameter Kualitas Air&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran menyatakan bahwa untuk menjamin kualitas air yang dinginkan sesuai peruntukannya agar tetap dalam kondisi alamiahnya, maka perlu dilakukan upaya pengelolaan kualitas air. Upaya pengelolaan kualitas air dilakukan pada :&lt;br /&gt;    * sumber yang terdapat di dalam hutan lindung;&lt;br /&gt;    * mata air yang terdapat di luar hutan lindung; dan&lt;br /&gt;    * akuifer air tanah dalam&lt;br /&gt;Kualitas air adalah kondisi kualitatif air yang diukur dan atau diuji berdasarkan parameter-parameter tertentu dan metode tertentu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pasal 1 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 115 Tahun 2003). Kualitas air dapat dinyatakan dengan parameter kualitas air. Parameter ini meliputi parameter fisik, kimia, dan mikrobiologis. Parameter fisik menyatakan kondisi fisik air atau keberadaan bahan yang dapat diamati secara visual/kasat mata. Yang termasuk dalam parameter fisik ini adalah kekeruhan, kandungan partikel/padatan, warna, rasa, bau, suhu, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Parameter kimia menyatakan kandungan unsur/senyawa kimia dalam air, seperti kandungan oksigen, bahan organik (dinyatakan dengan BOD, COD, TOC), mineral atau logam, derajat keasaman, nutrient/hara, kesadahan, dan sebagainya. Parameter mikrobiologis menyatakan kandungan mikroorganisme dalam air, seperti bakteri, virus, dan mikroba pathogen lainnya.Berdasarkan hasil pengukuran atau pengujian, air sungai dapat dinyatakan dalam kondisi baik atau cemar.  Sebagai acuan dalam menyatakan kondisi tersebut adalah baku mutu air, sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001. &lt;br /&gt;Tabel 1. Kriteria Mutu Air Berdasarkan Kualitas&lt;br /&gt;Parameter Satuan Kelas Keterangan&lt;br /&gt;  I II III IV &lt;br /&gt;Fisika&lt;br /&gt;Temperatur 0C Deviasi 3 Deviasi 3 Deviasi 3 Deviasi 5 Deviasi temperatur dan keadaan alamiah&lt;br /&gt;Residu terlarut Mg/L 1000 1000 1000 2000 &lt;br /&gt;Residu tersuspensi Mg/L 50 50 400 400 Bagi pengolahan air minum secara konvensional, residu tersuspensi &lt; 5000 mg/L&lt;br /&gt;KIMIA ANORGANIK&lt;br /&gt;pH  6-9 6-9 6-9 5-9 Apabila secara alamiah di luar rentang tersebut maka ditentukan berdasarkan kondisi alamiah&lt;br /&gt;BOD Mg/L 2 3 6 12 &lt;br /&gt;COD Mg/L 10 25 50 100 &lt;br /&gt;DO Mg/L 6 4 3 0 Angka batas minimum&lt;br /&gt;Total phosphat sebagai P Mg/L 0,2 0,2 1 5 &lt;br /&gt;NO3 sebagai N Mg/L 10 10 20 20 &lt;br /&gt;NH3-N Mg/L 0,5 - - - Bagi perikanan, kandungan amonia bebas untuk ikan yang peka &lt; 0,02 mg/L &lt;br /&gt;sebagai NH3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nitrit sebagai N&lt;br /&gt; Mg/L 0,06 0,06 0,06 - Bagi pengolahan air minum secara konvensional, NO2_N &lt; 1 mg/L&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : PP Nomor 82 tahun 2001&lt;br /&gt;Keterangan :     Mutu I  : untuk air baku air minum atau peruntukan lain yang memprasyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.&lt;br /&gt;Mutu II : untuk prasarana / sarana rekreasi, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi tanaman atau peruntukan lain yang memprasyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.&lt;br /&gt;Mutu III  : untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi tanaman atau peruntukan lain yang memprasyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.&lt;br /&gt;Mutu IV : untuk mengairi tanaman atau peruntukan lain yang memprasyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.&lt;br /&gt;Mikroba Air&lt;br /&gt;Faktor-faktor biotik yang terdapat di dalam air terdiri dari bakteria, fungi, mikroalgae, protozoa dan virus, serta kumpulan hewan ataupun tumbuhan air lainnya yang tidak termasuk kelompok mikroba. Kehadiran mikroba di dalam air dapat menguntungkan tetapi juga dapat merugikan.&lt;br /&gt;1) Menguntungkan&lt;br /&gt;a. Banyak plankton, baik fitoplankton ataupun zooplankton merupakan makanan utama ikan, sehingga kehadirannya merupakan tanda kesuburan perairan tersebut. Jenis-jenis mikroalgae misalnya : Chlorella, Hydrodyction, Pinnularia, Scenedesmus, Tabellaria.&lt;br /&gt;b. Banyak jenis bakteri atau fungi di dalam badan air berlaku sebagai jasad ”dekomposer”, artinya jasad tersebut mempunyai kemampuan untuk mengurai atau merombak senyawa yang berada dalam badan air. Sehingga kehadirannya dimanfaatkan dalam pengolahan buangan di dalam air secara biologis&lt;br /&gt;c. Pada umumnya mikroalgae mempunyai klorofil, sehingga dapat melakukan fotosintesis dengan menghasilkan oksigen. Di dalam air, kegiatan fotosintesis akan menambah jumlah oksigen, sehingga nilai kelarutan oksigen akan naik/ber-tambah, ini yang diperlukan oleh kehidupan di dalam air.&lt;br /&gt;d. Kehadiran senyawa hasil rombakan bakteri atau fungi dimanfaatkan oleh jasad pemakai/konsumen. Tanpa adanya jasad pemakai kemungkinan besar akumulasi hasil uraian tersebut dapat mengakibatkan keracunan terhadap jasad lain, khususnnya ikan.&lt;br /&gt;2) Merugikan&lt;br /&gt;a. Yang paling dikuatirkan, bila di dalam badan air terdapat mikroba penyebab penyakit, seperti : Salmonella penyebab penyakit tifus/paratifus, Shigella penyebab penyakit disentribasiler, Vibrio penyebab penyakit kolera, Entamoeba penyebab disentriamuba.&lt;br /&gt;b. Di dalam air juga ditemukan mikroba penghasil toksin seperti : Clostridium yang hidup anaerobik, yang hidup aerobik misalnya : Pseudomonas, Salmonella, Staphyloccus, serta beberapa jenis mikroalgae seperti Anabaena dan Microcystis&lt;br /&gt;c. Sering didapatkan warna air bila disimpan cepat berubah, padahal air tersebut berasal dari air pompa, misal  di daerah permukiman baru yang tadinya persawahan. Ini disebabkan oleh adanya bakteri besi misal Crenothrix yang mempunyai kemampuan untuk mengoksidasi senyawa ferro menjadi ferri.&lt;br /&gt;d. Di permukiman baru yang asalnya persawahan, kalau air pompa disimpan menjadi berbau (bau busuk). Ini disebabkan oleh adanya bakteri belerang misal Thiobacillus yang mempunyai kemampuan mereduksi senyawa sulfat menjadi H2S.&lt;br /&gt;e. Badan dan warna air dapat berubah menjadi berwarna hijau, biru-hijau atau warna-warna lain yang sesuai dengan warna yang dimiliki oleh mikroalgae. Bahkan suatu proses yang sering terjadi pada danau atau kolam yang besar yang seluruh permukaan airnya ditumbuhi oleh algae yang sangat banyak dinamakan blooming. Biasanya jenis mikroalgae yang berperan didalamnya adalah Anabaena flosaquae dan Microcystis aerugynosa. Dalam keadaan blooming sering terjadi kasus-kasus :&lt;br /&gt; - Ikan mati, terutama yang masih kecil yang disebabkan karena jenis-jenis mikroalgae tersebut  dapat menghasilkan toksin yang dapat meracuni ikan.&lt;br /&gt; - Korosi atau pengkaratan terhadap logam (yang mengandung senyawa Fe atau S), karena di  dalam massa mikroalgae penyebab blooming didapatkan pula bakteri Fe atau S penghasil asam  yang korosif.&lt;br /&gt;Ada pernyataan bahwa air jernih belum tentu bersih. Ini dihubungkan dengan keadaan bahwa air, sejak keluar dari mata air, sumur, ternyata sudah mengandung mikroba, khususnya bakteri atau mikroalgae. Pada air yang kotor atau sudah tercemar, misal air sungai, air kolam, air danau dan sumbersumber lainnya, disamping akan didapati mikroba seperti pada air jernih, juga kelompok mikroba lainnya yang tergolong penyebab penyakit, penghasil toksin, penyebab blooming, penyebab korosi, penyebab deteriorasi, penyebab pencemaran ini adalah bakteri coli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis pengolahan air&lt;br /&gt;Proses sanitasi air dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :&lt;br /&gt;1. Sanitasi air yang paling sederhana dengan memanaskan air hingga titik didih.&lt;br /&gt;2. Dengan klorinasi atau pencampuran kaporit kedalam air.Hydrodyction, Pinnularia, Scenedesmus, Tabellaria.&lt;br /&gt;Konsentrasi sekitar 2 ppm cukup untuk membunuh bakteri. Penggunaan kaporit akan menimbulkan bau pada air dan untuk menghilangkannya diperlukan proses penyaringan dengan media karbon aktif.&lt;br /&gt;3. Penggunaan senyawa perak.&lt;br /&gt;Alternatif ini jarang digunakan. Biasanya yang digunakan adalah perak nitrat, dengan mencampurkannya ke dalam air. Penggunaan ini biasanya untuk keadaan memaksa, misalnya tentara pada waktu perang atau petugas survei yang harus bekerja di tempat yang jauh dan tak ada air bersih.&lt;br /&gt;4. Dengan ultraviolet. &lt;br /&gt;Air dialirkan melalui tabung dengan lampu ultraviolet berintensitas tinggi, sehingga bakteri terbunuh oleh radiasi sinar ultraviolet. Yang harus diperhatikan adalah intensitas lampu ultraviolet yang dipakai harus cukup. Untuk sanitasi air yang efektif diperlukan intensitas sebesar 30.000 MW sec/cm2 (micro watt detik per sentimeter persegi). Radiasi sinar ultraviolet dapat membunuh semua jenis mikroba bila intensitas dan waktunya cukup. Tidak ada residu atau hasil samping dari proses penyinaran dengan UV. Namun, agar efektif lampu UV harus dibersihkan secara teratur dan harus diganti paling lama satu tahun. Air yang akan disinari dengan UV harus telah melalui filter halus dan karbon aktif untuk menghilangkan partikel tersuspensi, bahan organik, dan Fe atau Mn (jika konsentrasinya cukup tinggi).&lt;br /&gt;5. Ozonisasi.&lt;br /&gt;Ozon merupakan oksidan kuat yang mampu membunuh bakteri patogen, termasuk virus. Keuntungan penggunaan ozon adalah pipa, peralatan dan kemasan akan ikut di sanitasi sehingga produk yang dihasilkan akan lebih terjamin selama tidak ada kebocoran di kemasan. Ozon merupakan bahan sanitasi air yang efektif disamping sangat aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem filtrasi&lt;br /&gt; Desinfeksi air minum dapat dilakukan dengan filtrasi membran. Klorinasi tidak digunakan dalam proses pengolahan air minum,karena sisa klor dalam air dapat menimbulkan bau yang mengganggu pada saat dikonsumsi. &lt;br /&gt; Penyaringan (filtrasi) dapat dibedakan menjadi dua yaitu : 1) filtrasi dengan pasir dan 2) filtrasi membran. Filtrasi pasir untuk memisahkan partikel berukuran besar (&gt;3 mikrometer), mikrofiltrasi membran dapat memisahkan partikel berukuran lebih kecil (0,08 mikrometer), ultrafiltrasi dapat memisahkan makromolekul, nanofiltrasi dapat memisahkan mikromolekul dan ion-ion bervalensi dua (misalnya Mg,Ca).Adapun ion-ion dapat dipisahkan dengan membran ”reverses osmosis”. Dengan demikian, penggunaan mikrofiltrasi dapat memisahkan bakteri, dan penggunaan ultrafiltrasi dapat memisahkan bakteri dan virus.&lt;br /&gt; Bahan tersuspensi dapat dihilangkan dengan cara koagulasi/flokulasi, sedimentasi, filtrasi pasir atau membran filtrasi (mikrofiltrasi). Bahan-bahan terlarut dapat dihilangkan dengan aerasi (misalnya Fe dan Mn), oksidasi (misalnya dengan ozonisasi atau radiasi UV), adsorpsi dengan karbon aktif atau mebran filtrasi (reversed osmosis). &lt;br /&gt; Proses pengolahan air minum pada prinsipnya harus mampu menghilangkan semua jenis polutan, baik pencemaran fisik, kimia maupun mikrobiologis. Munculnya usaha air minum isi ulang merupakan fenomena yang tidak dapat dihilangkan. Dengan menjamurnya usaha tersebut, yang diperlukan adalah pengaturan berupa standar produk dan prosesnya. Dengan begitu bukan hanya pihak konsumen yang terlindungi tetapi juga usaha air minum isi ulang itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas air&lt;br /&gt;Pengadaan air bersih untuk kepentingan rumah tangga : untuk air minum, air mandi, dan keperluan lainnya, harus memenuhi persyaratan yang sudah ditentukan sesuai peraturan internasional (WHO dan APHA) ataupun peraturan nasional atau setempat. Dalam hal ini kualitas air bersih di Indonesia harus memenuhi persyaratan yang tertuang dalam peraturan Menteri Kesehatan RI No.173/Men.Kes/Per/VIII/77 dimana setiap komponen yang diperkenankan berada di dalamnya harus sesuai.&lt;br /&gt;Kualitas air tersebut menyangkut :&lt;br /&gt;a. Kualitas fisik yang meliputi kekeruhan,temperatur, warna, bau dan rasa. Kekeruhan air dapat ditimbulkan oleh adanya bahan-bahan organik dan anorganik yang terkandung di dalam air seperti lumpur dan bahan-bahan yang berasal dari buangan. Dari segi estetika, kekeruhan di dalam air dihubungkan dengan kemungkinan pencemaran oleh air buangan.&lt;br /&gt;b. Kualitas kimia yang berhubungan dengan ion-ion senyawa ataupun logam yang membahayakan, di samping residu dari senyawa lainnya yang bersifat racun, seperti antara lain residu pestisida. Dengan adanya senyawa-senyawa ini kemungkinan besar bau, rasa dan warna air akan berubah, seperti yang umum disebabkan oleh adanya perubahan pH air. Pada saat ini kelompok logam berat seperti Hg, Ag, Pb, Cu, Zn, tidak diharapkan kehadirannya di dalam air.&lt;br /&gt;c. Kualitas biologis, berhubungan dengan kehadiran mikroba patogen (penyebab penyakit, terutama penyakit perut), pencemar (terutama bakteri coli) dan penghasil toksin.&lt;br /&gt;Air adalah materi esensial dalam kehidupan. Tidak ada satupun makhluk hidup yang tidak membutuhkan air. Sel hidup misalnya, baik tumbuh-tumbuhan ataupun hewan sebagian besar tersusun oleh air, lebih dari 75% isi sel tumbuhan-tumbuhan atau lebih dari 67% isi sel hewan tersusun oleh air (Suriawiria, 1993).&lt;br /&gt;Air sumur adalah air yang didapat dari hasil penggalian tanah. Air sumur dikenal ada yang dalam dan ada yang dangkal. Air sumur yang dangkal adalah air sumur yang digali sampai kedalaman beberapa meter sampai belasan saja, sedangkan air sumur dalam ialah air sumur yang telah merembes melalui lapisan mineral, bersama air sumur masuk ke tanah sedangkan perembesan bahan-bahan organiknya hilang. Air sumur dapat langsung diminum, sedangkan air dangkal tidak boleh diminum langsung ( Hartono dan Widiatmoko, 1994) Menurut Rivai dan Hadi (1981) air sumur dangkal adalah air sumur yang digali kurang dari 15 m. &lt;br /&gt;Air bersih berbeda dengan air murni, air murni merupakan air yang memiliki kandungan ion-ion mineral tidak sekedar layak minum, tetapi juga menyehatkan. Air minum memang bersih tetapi air minum tidak selalu memadai untuk keperluan ilmiah, industry, dan medis. Air minum kerap harus dimurnikan terlebih dahulu (Hartono dan Widiatmoko, 1994).&lt;br /&gt;Pencemaran Air&lt;br /&gt;Kumar (1979) menyatakan bahwa sumber pencemar dapat pula dibedakan atas dasar bahan pencemar sebagai berikut : (1) bahan organik seperti sampah yang berasal dari manusia, hewan dan tumbuhan hidup serta sampah dari pengelolaan makanan dan industry lainnya, (2) penyakit yang disebabkan oleh sampah yang berasal dari organism yang hidup termasuk manusia, (3) nutrient tanaman, seperti unsure nitrogen dan posfor, (4) zat-zat persisten yang meliputi nonbiodegradable dari zat-zat organik, (5) sedimen dan lumpur, (6) zat-zat radioaktif, sebagai hasil dari pengolahan radioaktif dalam industri, kedokteran dan penelitian serta (7) panas yang disebabkan oleh pembangkit tenaga listrik dan pabrik. Indikator pencemaran air tanah oleh sampah organic ditandai dengn tingginya kadar zat organic (BOD , COD), nitrat, detergen, dan terdapatnya bakteri E.coli tinja (Fardiaz, 1992). &lt;br /&gt;Total Mikroba&lt;br /&gt;Setiap gram berat basah kotoran hewan rata-rata mengandung 1010 mikroorganisme anaerob dan 108 mikroorganisme aerob. Pada dasarnya tanah dengan segala mikroorganisme didalamnya dalam batas tertentu memiliki kesanggupan untuk menetralisir limbah yang dibuang diatasnya dengan proses mineralisasi oleh mikroorganisme, namun karena limbah yang ditimbun diatasnya jumlahnya melampaui batas maka yang terjadi adalah proses deformasi atau kerusakan lingkungan. Apabila bahan buangan yang harus didegradasi banyak jumlahnya akan menyebabkan mikroorganime ikut berkembang (Wardhana, 1999). &lt;br /&gt;Mikroorganisme yang masuk ke dalam kelompok coliform dipakai sebagai indicator pencemaran karena keberadaannya menunjukkan bahwa kuman patogen lainnya juga ada, demikian pula tidak semua coliform berasal dari kontaminasi kotoran manusia. Sebaliknya, jika air tidak mengandung bakteri indikator berarti tidak ada pencemaran oleh tinja dan air tidak mengandung bakteri patogen (Alaerts dan Santika, 1987).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;HASIL DAN PEMBAHASAN&lt;br /&gt;Hasil&lt;br /&gt;Tabel 2. Hasil Pengujian Mutu Air di Bara IV&lt;br /&gt;No Keterangan Jumlah&lt;br /&gt;1 COD 100 ppm&lt;br /&gt;2 NO2 1 ppm&lt;br /&gt;3 NH4 10 ppm&lt;br /&gt;4 NO3 45 ppm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan&lt;br /&gt;Air adalah materi esensial dalam kehidupan. Tidak ada satupun makhluk hidup yang tidak membutuhkan air. Sel hidup misalnya, baik tumbuh-tumbuhan ataupun hewan sebagian besar tersusun oleh air, lebih dari 75% isi sel tumbuhan-tumbuhan atau lebih dari 67% isi sel hewan tersusun oleh air (Suriawiria, 1993). Air merupakan salah satu sumber daya alam yang memiliki fungsi sangat penting bagi kehidupan dan perikehidupan manusia, serta untuk memajukan kesejahteraan umum, sehingga merupakan modal dasar dan faktor utama pembangunan. Air juga merupakan komponen lingkungan hidup yang penting bagi kelangsungan hidup dan kehidupan makhluk hidup.&lt;br /&gt;Kualitas air adalah kondisi kualitatif air yang diukur dan atau diuji berdasarkan parameter-parameter tertentu dan metode tertentu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pasal 1 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 115 Tahun 2003). Kualitas air dapat dinyatakan dengan parameter fisik, kimia, dan mikrobiologis. Parameter fisik menyatakan kondisi fisik air atau keberadaan bahan yang dapat diamati secara visual/kasat mata. Yang termasuk dalam parameter fisik ini adalah kekeruhan, kandungan partikel/padatan, warna, rasa, bau, suhu, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Klasifikasi mutu air ditetapkan menjadi empat kelas : 1) kelas satu, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang memper-syaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut; 2) kelas dua, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan,  air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut; 3) kelas tiga, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut; 4) kelas empat, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.&lt;br /&gt;Hasil pengujian air yang diperoleh dari wilayah Babakan Raya IV, Dramaga, Bogor menunjukkan besaran COD adalah 100 ppm. Chemical Oxygen Deman (COD) merupakan pengukuran bahan organik yang dilakukan dengan cara oksidasi. Pengukuran COD pada suatu perairan menggambarkan seberapa besar jumlah total oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi secara kimiawi bahan organik yang biodegradable (terdegradasi secara biologi) maupun yang non- biodegradable (tidak terdegradasi secara biologi) menjadi CO2 dan H2O (Boyd, 1990; Boyd dan Tucker, 1992; Nemerow, 1991). Pada perairan tercemar biasanya memiliki nilai lebih dari 200 mg/l dan pada limbah industri mencapai 60000 ml/l (UNESCO/WHO/UNEF, 1992 in Effendi, 2003). Angka 100 ppm menunjukkan bahwa nilai COD air yang diuji masih dalam keadaan dibawah standar pencemaran air untuk pertanian. Pengukuran COD didasarkan pada prinsip bahwa hampir semua bahan organik dapat dioksidasi menjadi karbondioksida dan air dengan bantuan oksidator kuat K2Cr2O7 (Kalium dikromat) dalam suasana asam. Oksidator ini diperkirakan dapat mengoksidasi bahan organik sekitar 95-100% ( Effendi, 2003; Ginting, 2007).&lt;br /&gt;Senyawa yang terkandung didalam air diantaranya nitrit (NO2). Nitrit merupakan bentuk peralihan antara amonia dan nitrat (nitrifikasi) serta antara nitrat dan gas nitrogen (denitrifikasi). Besaran yang terkandung di dalam air yang diuji adalah 1 ppm. Ambang batas kandungan nitrit yang diperbolehkan dalam lingkungan peternakan adalah 0,06 ppm (Nitrit biasanya ditemukan dalam jumlah sedikit di perairan dan bersifat tidak stabil jika terdapat oksigen. Pada kondisi oksigen yang cukup (oksik) nitrit akan berubah menjadi nitrat, sedangkan pada kekurangan oksigen (anoksik) nitrit berubah menjadi amonia. Perubahan ini karena nitrit merupakan nitrogen yang tidak stabil ( Novonty dan Olem, 1994). Nitrit akan cepat berubah menjadi nitrat melalui oksidasi. Nitrit merupakan senyawa tidak stabil yang merupakan bentuk peralihan antara amonia dengan nitrat dengan bantuan bakteri ( Basmi, 1994). &lt;br /&gt; Ion nitrat (NO3) merupakan bentuk senyawa nitrogen dominan. Konsentrasi nitrat di suatu perairan diatur dalam proses nitrifikasi, sedangkan nitrifikasi merupakan proses oksidasi amonia yang berlangsung dalam kondisi aerob. Oksidasi nitrit menjadi nitrat dilakukan oleh bakteri Nitrobacter sp. Proses nitrifikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu keberadaan senyawa beracun dalam air, suhu, derajat keasaman (pH), kandungan oksigen terlarut dan salinitas. Kadar nitrat diperairan yang tidak tercemar biasanya lebih tinggi dari amonium (Novonty dan Olem, 1994).  Kadar nitrat dalam air yang diuji sebesar 45 ppm yang menunjukkan bahwa air di daerah Bara telah tercemar. Kadar nitrat yang melebihi 0,5 mg/l menggambarkan terjadinya pencemaran yang berasal dari aktivitas manusia dan tinja hewan. Nitrat merupakan produk akhir dari proses oksidasi biokimia amonia. Konsentrasi nitrat di perairan dikontrol dalam proses nitrifikasi yang merupakan proses oksidasi senyawa amonia daalam kondisi aerob oleh bakteri autrotof. Pada perairan yang mengalami banjir kandungan nitratnya akan meningkat secara nyata (Hasan, 1993).&lt;br /&gt; Ammonium banyak terdapat pada proses tahap pertama proses nitrifikasi yang akan diubah menjadi nitrit dengan melibatkan bakteri Nitrosomonos dan Nitrosococcus dengan persamaan reaksi sebagai berikut:&lt;br /&gt;       NH4 + 3/2 O2                                           NO2 + H2O + 2 H E = - 65 kcal&lt;br /&gt;Sedangkan reaksi kedua diperankan oleh bakteri Nitrobacter dan Nitrococcus spp yang melakukan oksidasi dari nitrat ke nitrit dengan persamaan reaksi sebagai berikut :&lt;br /&gt;             NO2 + ½ O2     NO3 + E = - 18 kcal.&lt;br /&gt;Terdapatnya ammonium dalam air juga mengindikasikan adanya percemaran pada air tersebut. Sehingga semakin banyak ammonium dalam air akan semakin banyak pula nitrit yang dihasilkan. Nitrit inilah yang akan masuk pada proses nitrifikasi tahap kedua. Pada kondisi oksigen yang cukup (oksik) nitrit akan berubah menjadi nitrat, sedangkan pada kekurangan oksigen (anoksik) nitrit berubah menjadi amonia (Novonty dan Olem, 1994). Kadar ammonium air yang diuji sebesar 10 ppm. Kadar tersebut lebih kecil dari kadar nitrat dan lebih besar dari kadar nitrit dalam air yang diuji. Hal ini menunjukkan bahwa dalam air tersebut tidak cukup oksigen untuk merubah nitrit menjadi nitrat karena kadar nitrat hanya 45 ppm kurang dari 50%. Nitrit dalam air lebih banyak diubah menjadi amonia dari pada nitrat.&lt;br /&gt; Keberadaan nitrat dan nitrit dapat diindikasikan bahwa air tersebut telah tercemar oleh bakteri (kontaminasi kotoran hewan atau manusia). Nitrit lebih berbahaya dengan dua komponennya. Dalam jumlah yang banyak dapat menganggu darah dalam mengangkut oksigen dan bersifat racun. Level maksimum nitrat yang direkomendasikan cukup bervariasi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi &lt; 300 ppm, nitrat masih bias ditoleransi unggas, namun beberapa penelitian yang lain menyarankan bahwa level maksimum nitrat adalah 50 ppm (Novonty dan Olem, 1994).  Dibandingkan dengan kadar nitrat air Bara yang diuji 45 ppm, menunjukkan bahwa pencemaran nitrat pada air di Bara belum kritis karena masih di bawah level maksimum.                                                                                .&lt;br /&gt; Pencemaran air tersebut harus diimbangi pula oleh upaya sanitasi untuk mendapatkan air bersih dan sehat. Proses sanitasi air dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :&lt;br /&gt;1. Sanitasi air yang paling sederhana dengan memanaskan air hingga titik didih.&lt;br /&gt;2. Dengan klorinasi atau pencampuran kaporit kedalam air seperti Hydrodyction, Pinnularia, Scenedesmus, Tabellaria. Konsentrasi sekitar 2 ppm cukup untuk membunuh bakteri. Penggunaan kaporit akan menimbulkan bau pada air dan untuk menghilangkannya diperlukan proses penyaringan dengan media karbon aktif.&lt;br /&gt;3. Penggunaan senyawa perak. Alternatif ini jarang digunakan. Biasanya yang digunakan adalah perak nitrat, dengan mencampurkannya ke dalam air. Penggunaan ini biasanya untuk keadaan memaksa, misalnya tentara pada waktu perang atau petugas survei yang harus bekerja di tempat yang jauh dan tak ada air bersih.&lt;br /&gt;4. Dengan ultraviolet.  Air dialirkan melalui tabung dengan lampu ultraviolet berintensitas tinggi, sehingga bakteri terbunuh oleh radiasi sinar ultraviolet. Yang harus diperhatikan adalah intensitas lampu ultraviolet yang dipakai harus cukup. Untuk sanitasi air yang efektif diperlukan intensitas sebesar 30.000 MW sec/cm2 (micro watt detik per sentimeter persegi). Radiasi sinar ultraviolet dapat membunuh semua jenis mikroba bila intensitas dan waktunya cukup. Tidak ada residu atau hasil samping dari proses penyinaran dengan UV. Namun, agar efektif lampu UV harus dibersihkan secara teratur dan harus diganti paling lama satu tahun. Air yang akan disinari dengan UV harus telah melalui filter halus dan karbon aktif untuk menghilangkan partikel tersuspensi, bahan organik, dan Fe atau Mn (jika konsentrasinya cukup tinggi).&lt;br /&gt;5. Ozonisasi. Ozon merupakan oksidan kuat yang mampu membunuh bakteri patogen, termasuk virus. Keuntungan penggunaan ozon adalah pipa, peralatan dan kemasan akan ikut di sanitasi sehingga produk yang dihasilkan akan lebih terjamin selama tidak ada kebocoran di kemasan. Ozon merupakan bahan sanitasi air yang efektif disamping sangat aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESIMPULAN DAN SARAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;Air merupakan komponen penting dalam kehidupan. Bagi makhluk hidup air merupakan salah satu bahan nutrisi. Fungsi air bagi tubuh adalah untuk pengaturan temperatur badan, pengangkutan bahan nutrisi lainnya dan turut juga dalam berbagai reaksi kimia dalam tubuh. Pelaksanaan praktikum ini telah mendapatkan data kadar kualitas air di sekitar wilayah kampus IPB  Darmaga Bogor berdasarkan parameter COD, NH4, NO2, dan NO3. Kualitas air di daerah Bara teridentifikasi masih normal karena pencemaran COD, nitrat, ammonium masih dibawah level maksimum, sedangkan nitrit diatas level maksimum jika dilihat dari sudut pandang peternakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saran&lt;br /&gt;Disarankan pengendalian lingkungan di sekitar daerah Bara supaya pencemaran air dapat ditekan. Salah satu cara dalam pengendalian lingkungan di daerah Bara yaitu penghijauan untuk mengurangi polusi udara, pembangunan instalasi pengolahan limbah di Bara sehingga dapat mengurangi potensial pencemaran tanah sebagai sumber air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alaerts , G. dan S. S Santika. 1987. Metode Penelitian Air. Penerbit Usaha Nasional, Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boyd, C. E. 1990. Water Quality In Warmwater Fish Ponds Agricultural Experiment Station, Auburn University Press. Auburn. Albama. US. 482h.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boyd, C. E. dan C. C. Tucker. 1992. Water Quality and Pond Agricultural Experiment Station, Auburn University Press. Auburn. Alabama. US.183 h.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Kansius Press. Yogyakarta. 257h.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fardiaz, S. 1992. Polusi Air dan Udara. Kanisius, Yogyakarta.&lt;br /&gt;Ginting, P. 2007. Sistim pengelolaan Lingkungan dan Limbah Industri. CV. Yrama Widya. Bandung. 222h.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hartono, A. J. dan M.C. Widiatmoko. 1994. Teknologi Membran Pemurnian Air. Andi OFFSET, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasan, Z. 1993. Pengaruh kegiatan Budidaya Ikan dalam jaring Apung terhadap Tingkat Kesuburan Perairan dan Komunitas Fitoplankton di Waduk Saguling, Jawa Barat. Tesis Pascasarjana IPB. Bogor. 71 h.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Knox, G.A. dan T. Miyabara, 1984. Coastal Zone Resource Development and Conservation in South East Asia, with Special Reference to Indonesia. UNESCO Press. Jakarta. 182h.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumar, H. D. 1979. Modern Concept of Ecology. Vikas. Published House VT, Ltd., London.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nemerow, N. L. 1974. Scientific Stream Pollution Analysis. Van Nostrand Reinhold L.td. New York. US. 358h.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nemerow, N. L. 1991. Stream, Lake, Estuary, and Ocean Pollution. 2nd. Van Nostrand Reinhold Ltd. New York. US 472h.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novotny V. dan H. Olem. 1994. Water Quality, Prevention, Identification, and Management of Diffuse Poluution. Van Nostrands Reinhold. New York. 1054 h.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nybakken, J. W. 1992. Biologi laut: suatu pendekatan ekologis. Diterjemahkan oleh M. Eidma, Koesoebiono, M. Hutomo, S. Sukardjo, dan D. G. Bengen. PT Gramedia. Jakarta. 458 h.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pescod, M. B. 1973. Investigation of Rational Effluent and Stream Standard for Tropical Countries. Environmental Engineering Division. Bangkok : Asian Institut Technology Press. 148 h.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riva’I, M.N. dan F. Hadi. 1981. Ilmu Teknik Penyehatan. Edisi 2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suriawiria, U.1993. Mikrobiolgi Air. Edisi 2. Penerbit Alumni, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wardana, W.A. 1999. Dampak Pencemaran Lingkungan. Edisi 2. Andi OFFSET. Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Welch, S. 1952. Limnology. Mac Graw-Hill Inc. New York. US. 318 h.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Williams, J. 1979. Introduction to Marine Pollution Control. A Wiley-Interscience Publication. New York. US. 173 h.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7815043427107780643-471699966210166055?l=mudeaje.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mudeaje.blogspot.com/feeds/471699966210166055/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mudeaje.blogspot.com/2009/12/mata-kuliah-teknik-pengelolaan-limbah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7815043427107780643/posts/default/471699966210166055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7815043427107780643/posts/default/471699966210166055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mudeaje.blogspot.com/2009/12/mata-kuliah-teknik-pengelolaan-limbah.html' title=''/><author><name>mude aje</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00451268543593313039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_iYALs3CXeYA/SMafLiIkGKI/AAAAAAAAABM/bjGGC8p6pto/S220/foto+mude2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7815043427107780643.post-6484281003630842852</id><published>2009-11-26T02:26:00.000-08:00</published><updated>2009-11-26T02:52:59.301-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Potongan primal kakas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Yield grade'/><title type='text'>Portongan Primal Karkas Domba dan Yield gradenya</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pengamatan terhadap  karkas domba meliputi bobot hidup, karkas dan persentasenya, warna daging, warna dan tebal lemak, marbling, luas udamaru, persentase lemak pelvis dan ginjal. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bobot Potong, Bobot Karkas dan Persentase Karkas &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;           Hasil penghitungan persentase karkas sejalan dengan hasil pengukuran terhadap pengukuran bobot potong (bobot hidup) dan bobot karkas karena persentase karkas merupakan perbandingan antara bobot karkas dengan bobot hidup saat dipotong (dikurangi isi saluran pencernaan dan urine) dikali dengan 100% (Judge et al., dalam Usmiati dan Roswita, 2006). Berdasarkan hasil pengamatan, persentase karkas domba hanya 20,93% jauh lebih kecil dibandingkan dengan persentase karkas normal 40%. Hal tersebut dibenarkan oleh hasil penelitian Usmiati dan Roswita (2006) yang memperoleh persentase karkas 44,18 % pada domba jantan dan 43,01% pada domba betina yang memiliki bobot potong 25,80 kg dan 25,13 kg. Kemungkinan besar hal ini disebabkan penyusutan bobot karkas panas dan managemen pakan yang kurang bagus. Karkas yang diamati sudah dibekukan terlebih dulu dalam jangka waktu tertentu. Pakan yang diberikan diduga mengandung energi tinggi sehingga menghasilkan lemak lebih banyak, dan lemak tersebut telah dipisahkan dari karkasnya. Menurut Berg dan Butterfild (1976), persentase karkas dipengaruhi oleh bobot karkas, bobot ternak, bangsa, proporsi bagian-bagian non karkas, ransum, umur, dan jenis kelamin.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;            Beberapa faktor yang mempengaruhi produksi karkas seekor ternak adalah bangsa, umur, jenis kelamin, laju pertumbuhan, bobot potong, dan nutrisi (Berg dan Butterfield, 1976). Bangsa ternak yang mempunyai bobot potong besar menghasilkan karkas besar pula. Soeparno (1994) menyatakan bahwa bobot potong yang semakin meningkat menghasilkan karkas yang semakin meningkat pula, sehingga dapat diharapkan bagian dari karkas yang berupa daging menjadi lebih besar. Speedy (1980) menyatakan bahwa bertambahnya umur ternak yang sejalan dengan pertambahan bobot hidupnya, maka bobot karkas akan bertambah. Jenis kelamin mempengaruhi persentase karkas karena menyebabkan perbedaan laju pertumbuhan, ternak jantan biasanya tumbuh lebih cepat daripada ternak betina pada umur yang sama (Soeparno, 1994) sehingga ternak jantan memiliki persentase karkas lebih besar dibandingkan ternak betina. Ternak yang status gizinya baik, mendapat pakan dengan kandungan energi tinggi akan menghasilkan karkas yang lebih berlemak daripada pakan dengan energi rendah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;Potongan Primal Karkas Domba&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;          Potongan primal karkas domba (gambar 1) meliputi paha (leg), pinggang (loin), punggung rusuk (rack), bahu (shoulder), leher (neck), dada (breast), lipatan paha (flank), dan lengan (shank).  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 116px; height: 87px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iYALs3CXeYA/Sw5bEBrQ3pI/AAAAAAAAAEc/EkVAOvhbbcE/s320/images.jpeg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5408360327246044818" /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Gambar 1. Struktur potongan primal karkas domba&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;         Cara pemotongan karkas ditentukan oleh spesies ternak dan selera konsumen. Paha dan sirloin dipisahkan dengan memotong tegak lurus melalui columna vertebralis pada titik tepat dibagian anterior ilium. Loin dipisahkan dengan potongan antara rusuk ke 12 dan ke 13, kemudian tegak lurus melalui columna vertebralis. Bagian dada dan paha depan (shank) dipisahkan dengan karkas dengan memotong anterior sternum bagian ventral rusuk ke 12 atau sampai ke dinding abdominal. Bagian shoulder dipisahkan dari rusuknya umumnya dibuat potongan antara rusuk ke 5 atau ke 6 (Soeparno, 1994). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Persentase potongan komersil karkas domba terbesar terletak di leg dan shoulder. Kedua bagian itu masuk ke dalam evaluasi dalam menentukan kualitas daging ternak dari fisik luar karena daerah tersebut memiliki proporsi daging cukup banyak. Sedangkan persentase dada hanya 9,30%, sehingga tidak dibenarkan jika seseorang menilai kualitas karkas ternak yang masih hidup dengan mengamati dan menilai dada ternak tersebut. Leg, shoulder dan rack pada gradenya termasuk ke dalam kelas II. Loin dan terderloin termasuk golongan I yang umumnya digunakan sebagai steak dan barbeque. Daging kelas I merupakan komponen karkas yang memiliki harga yang cukup tinggi karena paling empuk. Keempukan ini disebabkan antara lain oleh faktor aktivitas masing-masing bagian karkas. Daging tersebut berasal dari bagian karkas yang relatif tidak banyak digunakan untuk bergerak. Selain itu bagian karkas ini memiliki tingkat  marbling yang paling baik dibandingkan karkas bagian lainnya. Breast, flank, dan shank masuk golongan III yang umumnya digunakan sebagai rendang.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;           Menurut Kempster (1982), nilai komersial dari karkas pada umumnya tergantung pada ukuran, struktur dan komposisinya, dimana sifat-sifat struktural karkas yang utama untuk kepentingan komersial tersebut meliputi bobot, proporsi jaringan-jaringan karkas, ketebalan lemak, komposisi kimia serta penampilan luar dari jaringan tersebut serta kualitas dagingnya. Beerman et al., (1986) menyatakan bahwa bobot potongan karkas komersial dipengaruhi oleh bobot karkasnya. Jenis kelamin berpengaruh terhadap pertumbuhan lemusir (loin), punggung rusuk (rib), dan leher (neck). Pada domba jantan, otot pada bagian shoulder, leg, loin, dan breast mengalami masak dini sehingga pertumbuhannya relative cepat dibandingkan dengan potongan bagian tubuh.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Yield Grade&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;         Yield grade&lt;/em&gt; lebih objektif dari nilai-nilai kualitas karena pengukuran langsung dari karkasnya. &lt;em&gt;Yield grade&lt;/em&gt; yang digunakan untuk mengidentifikasi karkas. Faktor yang diperhitungkan dalam memperkirakan jumlah daging yang dihasilkan dari suatu karkas atau kualitas hasil untuk daging sapi meliputi :&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;1. Ketebalan lemak subkutan, dalam inci&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;2. Luas area mata rusuk (area Longissimus dorsi), dalam inci kuadrat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;3. Persen lemak viseral yaitu lemak ginjal (penyelubung ginjal), pelvik dan jantung terhadap berat karkas&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;4. Berat karkas dalam pound&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Untuk domba, faktor kualitas hasil meliputi :&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;1. Ketebalan lemak subkutan, dalam inci &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;2. Persen lemak penyelubung ginjal dan pelvik terhadap berat karkas&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;3. Kode skor konformasi paha, diberi angka 15 untuk yang tertinggi, kemudian 14, 13 dan seterusnya (Rusianto, 2009)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;        Ketebalan lemak subkutan diukur pada permukaan rea otot Longissimus Dorsi (LD) (Gambar 2), pada posisi pemisahan seperempat depan dan seperempat belakang dari karkas. Pengukuran ketebalan lemak subkutan dilakukan tegak lurus permukaan lemak, diposisi tiga perempat bagian sumbu panjang otot LD. Estimasi persentase jumlah lemak ginjal dan pelvik dilakukan secara objektif dengan mengambil lemak di kedua daerah tersebut dan menimbangnya. Persentase lemak ginjal dan pelvik (LPG) turut mempengaruhi karena LPG menunjukkan tingkat kematangan ternak. Semakin banyak LPG menunjukkan ternak akan semakin matang dan proporsi lemaknya semakin tinggi (Rusianto, 2009).. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;            Luas area LD yang dinyatakan dalam inci, diestimasi secara subjektif dengan mengukur menggunakan gambar titik-titik beraturan membentuk sebuah kotak segi empat. Berat karkas dapat didasarkan pada berat segar atau estimasi berat karkas yang dihitung dari berat karkas layu (dingin) x 1,02. Penyusutan berat karkas selama pelayuan (sampai sekitar 24 jam setelah pemotongan) diestimasikan sekitar 2% (Rusianto, 2009). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 229px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iYALs3CXeYA/Sw5b3yE3wdI/AAAAAAAAAEk/NS_Jb0_EX7w/s320/Picture1.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5408361216411681234" /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Gambar 2.Penampang daerah antara rusuk 12-13&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;          Penghitungan kualitas hasil pada sapi yaitu jumlah daging yang dihasilkan dapat diperoleh dengan persamaan sebagai berikut : 2,50 + (2,50 x ketebalan lemak) + (0,20 x persen lemak ginjal dan pelvik) + (0,0038 x berat karkas) – (0,32 x luas area LD). Sedangkan untuk ternak domba, persamaan kualitas jumlah daging adalah : 1,66 + (6,66 x ketebalan lemak) + (0,25 x persen lemak ginjal dan pelvik) – (0,05 x kode skor konformasi paha). Hasil perhitungan yield grade dibulatkan kebawah. Tingkat (jumlah) daging yang dapat dimakan diestimasi dan dinilai dari angka 1 sampai 5 (Rusianto, 2009). Karkas dengan angka kualitas hasil terendah menghasilkan daging dengan jumlah tertinggi. Hasil perhitungan yield grade pada pengamatan yaitu 0,04 berdasarkan bobot karkas segar dan 0,04 berdasarkan estimasi berat karkas yang dihitung dari berat karkas layu (dingin), namun hal itu masih menunjukan nilai yield grade di bawah 1. Nilai yield grade dibawah 1 tidak masuk ke dalam grade yang telah ditetapkan (tabel 3). Hal ini menunjukkan bahwa domba mampu memproduksi daging dalam jumlah tinggi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;          &lt;strong&gt;Tabel 3.  Yield Grade Karkas&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;                Yield Grade  % boneless Retail Cuts&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;1        52.6  - 54.6 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;2         50.3 – 52.3&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;3         48.0 – 50.0&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;4         45.7 – 47.7&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;5         43.3 – 45.4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7815043427107780643-6484281003630842852?l=mudeaje.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mudeaje.blogspot.com/feeds/6484281003630842852/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mudeaje.blogspot.com/2009/11/portongan-primal-karkas-domba-dan-yield.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7815043427107780643/posts/default/6484281003630842852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7815043427107780643/posts/default/6484281003630842852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mudeaje.blogspot.com/2009/11/portongan-primal-karkas-domba-dan-yield.html' title='Portongan Primal Karkas Domba dan Yield gradenya'/><author><name>mude aje</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00451268543593313039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_iYALs3CXeYA/SMafLiIkGKI/AAAAAAAAABM/bjGGC8p6pto/S220/foto+mude2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iYALs3CXeYA/Sw5bEBrQ3pI/AAAAAAAAAEc/EkVAOvhbbcE/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7815043427107780643.post-1607669931925104486</id><published>2009-11-22T05:43:00.000-08:00</published><updated>2009-11-22T06:06:01.481-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosis Vs Meat loaf'/><title type='text'>SOSIS Vs Meat Loaf</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iYALs3CXeYA/SwlB727HbbI/AAAAAAAAAD0/KRwP4vSYkeE/s1600/meat+love2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 216px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iYALs3CXeYA/SwlB727HbbI/AAAAAAAAAD0/KRwP4vSYkeE/s320/meat+love2.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406925324246543794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SNI 01-3020-1995 :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sosis &lt;/span&gt;adalah produk makanan yang diperoleh dari campuran daging halus (mengandung daging tidak kurang dari 75%) dengan tepung atau pati dengan atau tanpa penambahan bumbu-bumbu dan bahan tambahan makanan lain yang diizinkan dan dimasukan ke dalam selongsong sosis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Meatloaf  &lt;/span&gt;adalah sejenis sosis namun dalam pembuatannya meatloaf tidak dimasukkan dalam casing, hanya dalam loyang dan di oven. Meatloaf Nanas adalah meatloaf yang telah diinovasi dengan pemberian toping nanas.  Nanas cukup potensial digunakan sebagai toping untuk kreasi meatloaf karena kandungan bromelinnya. bromelin ini dapat mengenyalkan daging yang keras, karena sifatnya menghancurkan daging. Berikut adalah gambar meat loaf nanas yang diangkat dari oven.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 224px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_iYALs3CXeYA/SwlCWzqhZLI/AAAAAAAAAD8/LnvUVw7jPhI/s320/meat+love3.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406925787228103858" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Berikut hasil penilaian organoleptik meat loaf nanas yang ditunjukkan dalam diagram batang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iYALs3CXeYA/SwlE5t0rmjI/AAAAAAAAAEM/3NJdde7sqxI/s320/sosia.png" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406928585978780210" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7815043427107780643-1607669931925104486?l=mudeaje.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mudeaje.blogspot.com/feeds/1607669931925104486/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mudeaje.blogspot.com/2009/11/sosis-vs-meat-loaf.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7815043427107780643/posts/default/1607669931925104486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7815043427107780643/posts/default/1607669931925104486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mudeaje.blogspot.com/2009/11/sosis-vs-meat-loaf.html' title='SOSIS Vs Meat Loaf'/><author><name>mude aje</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00451268543593313039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_iYALs3CXeYA/SMafLiIkGKI/AAAAAAAAABM/bjGGC8p6pto/S220/foto+mude2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iYALs3CXeYA/SwlB727HbbI/AAAAAAAAAD0/KRwP4vSYkeE/s72-c/meat+love2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7815043427107780643.post-8211712530868469099</id><published>2009-11-22T00:29:00.000-08:00</published><updated>2009-11-22T01:04:24.863-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pagi Cerah'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#663366;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tepat jam 06.00 WIB mataku terbangun dari tidurnya, melihat suasana masih gelap aku pun memejamkan mataku kembali dan berniat untuk bangun tepat jam 07.00 WIB. Tepat jam 7 mataku terbuka kembali dan bergegas menuju kamar mandi seraya bersiap-siap untuk datang ke seminar teman jam 8. Berangkant dengan menggunakan ojek menuju ke fakultas aku. Motor mendarat di depan fakultas peternakan, dan akupun segera berlari menyusuri anak tangga menuju ruang seminar di lanti 4. Namun baru dilantai 3 aku bertemu dengan teman kelas yang juga telat dan tidak dapat mengikuti seminar karena pintu seminar telah terkunci. Aku duduk di bangku sebentar untuk mengistirahatkan badanku yang kelelahan menaiiki tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sambil menunggu semiar sesi berikutnya kuputuskan nongkrong di kantin nays sambil mengisi perut. Aku turun kembali ke lantai dasar menuju nays cafe. Di nays aku bertemu dengan 2 temen kelasku yang juga telat. Aku segera memesan makanan dan mengambil tempat duduk bersama kedua temen kelasku itu. sekitar 2 jam kita bertiga ngobrol ngalor ngidul tentang teman-teman kita. Terbersit dipikiranku,, ternyata untuk memahami dan mengetahui karakter orang lain termasuk kedua teman yang berada didepanku saat itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7815043427107780643-8211712530868469099?l=mudeaje.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mudeaje.blogspot.com/feeds/8211712530868469099/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mudeaje.blogspot.com/2009/11/tepat-jam-06.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7815043427107780643/posts/default/8211712530868469099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7815043427107780643/posts/default/8211712530868469099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mudeaje.blogspot.com/2009/11/tepat-jam-06.html' title=''/><author><name>mude aje</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00451268543593313039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_iYALs3CXeYA/SMafLiIkGKI/AAAAAAAAABM/bjGGC8p6pto/S220/foto+mude2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7815043427107780643.post-1626442577956314919</id><published>2009-11-20T18:50:00.000-08:00</published><updated>2009-11-20T18:52:39.049-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi'/><title type='text'>Sikap Berkomunikasi</title><content type='html'>Sikap Berkomunikasi&lt;br /&gt;Sikap berkomunikasi merupakan komponen yang terkait pada diri komunikator yang menentukan keberhasilan dan keefektifan komunikasi. Sikap berkomunikasi yang dibawakan seseorang dalam berkomunikasi dapat meningkatkan atau melemahkan suatu hubungan antar orang. Beberapa sikap dalam berkomunikasi  yaitu : asertif, submisif, dan agresif.&lt;br /&gt;1. Asertif merupakan cara penyampaian gagasan secara terbuka. Sikap ini dicirikan dengan berani, positif, dan enuh keyakinan dengan segala sesuatu yang dilakukan atau dikatakan yakni berani memperahankan hal-hal yang benar secara keyakinan. &lt;br /&gt;2. Submisiif merupakan suatu sikap yang selalu mengiyakan segala permintaan orang lain atau kecenderungan menyetujui pendapat orang lain tanpa megemukakan pendapat sendiri atau ragu-ragu dalam berbicara atau bertindak. Sikap ini menunjukkan orang yang bernampilan lemah tak berdaya serta menempatkan diri dalam posisi subordinat karena kekahwatiran memperoleh hal-hal yang tidak mengenakan, seperti reaksi-reaksi negatif dari lawan komunikasinya.&lt;br /&gt;3. Agresif merupakan sikap berperilaku dogmatis, sering megadili orang lain dan terkadang menyerang orang lain secara personal. Orang ini cenderung bertindak negatif dan merasa bermusuhan dengan orang lain, memaksakan pendapatnya pada orang lain, merasa superior dalam berkomunikasi dengan orang lain.&lt;br /&gt;Social power  yaitu potensi untuk merubah sikap, keyakinan, kepercayaan, dan perilaku orang lain. Social power diperlukan supaya orang dapat bersikap tegas pada dirinya sendiri.  Menurut French dan Roven dalam Verdeber (1973) terdapat 5 jenis social power meliputi :&lt;br /&gt;1. Coercive Power merupakan bentuk kekuasaan mengancam, dengan menggunakan paksaan baik fisik maupun psikologis. Seseorang menjadi asertif karena dia diintimidasi oleh orang yang memberikan ancaman.&lt;br /&gt;2. Reward Power yakni potensi untuk merubah perilaku seseorang dengan meberikan keuntungan-keuntungan yang bersifat fisik, psikologis, dan uang.  Dalam hal ini orang tidak asertif karena dia khawatir kehilangan reward jika bersikap tegas.&lt;br /&gt;3. Legitimate Power ialah kekuasaan yang diperolehnya karena ia menduduki posisi tertentu dalam sistem sosial. Kedudukan ini dapat membuat orang tidak tegas.&lt;br /&gt;4. Expert Power is a kekuasan yang dimiliki seseorang karena memeliki pengetahuan dalam ilmu disiplin tertentu. Orang cenderung tidak membantah apa yang dikatakannya karena dia dianggap sudah ahli&lt;br /&gt;5. Referent Power kekuasaan yang dimiliki seseorang untuk mempengaruhi orang lain dengan imej, kharisma atau keribadian orang itu. Banyak diantara kita menjadi tidak tegas karena berhadapan dengan orang yang kita kagumi.&lt;br /&gt;Sikap berkomunikasi yang paling baik adalah asertif karena sikap ini menunjukkan rasa percaya diri, positif terhadap orang lain, dan  memungkinkan orang lain berespon secara spontan, terbuka dalam mengemukakan pendapat, memperlakukan pasangan komunikasi setara tanpa menyakiti hati orang lain  maupun diri sendiri. &lt;br /&gt;Sikap asertif dalam berkomunikasi tidak selalu dapat diwujudkan karena adanya gangguan yang bersifat abjektif dan subjektif. Hambatan objektif merupakan gangguan yang tidak sengaja dilakukan, dan hambatan subjektif ialah gangguan komunikasi yang dibuat oleh orang lain atas dasar perhitungan kepentingan dan prasangka.&lt;br /&gt;Tipe-tipe hubungan pesan&lt;br /&gt; Menurut Vandenmark dan leth (1977) dengan komunikasi kita mengembangkan, mempertahankan, dan mengakhiri hubungan. Pesan yang disampaikan oleh pihak-pihak yang berkomunikasi tersebut tidaklah hanya sebuah isi pesan, melainkan terdapat hubungan pesan. Hubungan pesan menunjuk pada persepsi kita terhadap hubungan yang melandasi pertukaran atau pemakaian esan secara bersama. Terdapat 3 hubungan pesan yaitu :&lt;br /&gt;1. Confirmation : Anda benar atau saya sedang dalam apa yang anda kerjakan&lt;br /&gt;2. Disconformation : terjadi jika anda gagal untuk menyadari kehadiran seseorang&lt;br /&gt;3. Rejection : anda salah atau saya tidak suka dengan apa yang kamu kerjakan&lt;br /&gt;Komunikasi merupakan pemakaian pesan secara bersama, sehingga confirmation tidak selamanya baik dan rejection tidak selamanya buruk, yang jelas kita harus tegas atau bersikap asertif&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7815043427107780643-1626442577956314919?l=mudeaje.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mudeaje.blogspot.com/feeds/1626442577956314919/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mudeaje.blogspot.com/2009/11/sikap-berkomunikasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7815043427107780643/posts/default/1626442577956314919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7815043427107780643/posts/default/1626442577956314919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mudeaje.blogspot.com/2009/11/sikap-berkomunikasi.html' title='Sikap Berkomunikasi'/><author><name>mude aje</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00451268543593313039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_iYALs3CXeYA/SMafLiIkGKI/AAAAAAAAABM/bjGGC8p6pto/S220/foto+mude2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7815043427107780643.post-7899812865288413057</id><published>2009-11-18T05:18:00.000-08:00</published><updated>2009-11-18T05:36:20.453-08:00</updated><title type='text'>Panggung sandiwara</title><content type='html'>Hidup ini bagaikan penggung sandiwara. Kita berperan sebagai lakon dalam sandiwara ini, sedangkan sutradaranya ialah Allah SWT. Hidup merupakan pilihan, apapu pilihan lakon yang akan kita mainkan, itu adalah jalan terbaik yang ditunjukkan oleh Allah untuk kita. Tak perlu takut memilih.. jalani hidup yang penuh tantangan ini dengan berani dan &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7815043427107780643-7899812865288413057?l=mudeaje.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mudeaje.blogspot.com/feeds/7899812865288413057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mudeaje.blogspot.com/2009/11/panggung-sandiwara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7815043427107780643/posts/default/7899812865288413057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7815043427107780643/posts/default/7899812865288413057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mudeaje.blogspot.com/2009/11/panggung-sandiwara.html' title='Panggung sandiwara'/><author><name>mude aje</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00451268543593313039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_iYALs3CXeYA/SMafLiIkGKI/AAAAAAAAABM/bjGGC8p6pto/S220/foto+mude2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7815043427107780643.post-6321685234072265378</id><published>2008-09-22T08:38:00.001-07:00</published><updated>2008-09-22T08:38:50.015-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Nama Lokal :&lt;br /&gt;NAMA DAERAH Sumatera: temu erang, t. itam (Melayu). Jawa: koneng hideung (Sunda), temu ireng (Jawa). Nusa Tenggara: temo ereng (Madura), temu ireng (Bali). Sulawesi: tamu leteng (Makasar), temu lotong (Bugis). NAMA asing Ezhu (C). NAMA SIMPLISIA Curcumae aeruginosae Rhizoma (rimpang temu hitam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit Yang Dapat Diobati :&lt;br /&gt;Rimpang rasanya pahit, tajam, dan sifatnya dingin. Berkhasiat peluruh kentut (karminatif), peluruh dahak, meningkatkan nafsu makan (stomakik), anthelmintik, dan pembersih darah setelah melahirkan atau setelah haid. EFEK FARMAKOLOGIS DAN HASIL PENELITIAN Hasil penelitian pengaruh perasan rimpang temu hitam terhadap cacing askaris babi in vitro dan kontraksi usus halus (jejunum) marmut terpisah in vitro seperti berikut. Perasan rimpang dapat membunuh askaris babi seperti piperasin sitrat. Beningan rimpang dapat menekan amplitudo kontraksi spontan usus kelinci (FX.S.Dirdjosudjono, Taroeno, Sudjiman, dkk., Bagian Farmakologi, FKH dan Bagian Farmakologi Farmasi, FF UGM). Berdasarkan penelitian daya membunuh cacing (anthelmintik) rimpang temu hitam pada cacing askaris babi secara in vitro, ternyata daya anthelmintik minyak asirinya paling kuat dibandingkan dengan perasan ataupun infus temu hitam (Taroeno, Kun Sumardiyah S., dan Sugiyanto, Bagian Biologi Farmasi, FF UGM). Telah dilakukan penelitian daya antelmintik rebusan rimpang temu hitam terhadap Ascaridia galli in vitro. Ternyata, rebusan irisan temu hitam dapat mematikan cacing dalam waktu 7--17 jam, sediaan rebusan parutan dalam waktu 11--20 jam, dan sediaan serbuk dalam waktu 11--25 jam. Kandungan minyak asiri terbesar pada sediaan irisan (Endah Eny Riayati, Fakultas Farmasi UGM, 1989. Pembimbing: Drs. Sudarto, Apt. dan Dra. Sri Sumarni, SU). Kadar minyak asiri maksimum terdapat pada waktu rimpang belum bertunas dan mengeluarkan batang/ daun. Kadar minyak asiri yang tumbuh di Hortus Medicus Tawangmangu selama tumbuh berkisar 0,25%-0,50% (A. Indrawati, Supardi, Laboratorium Biologi Farmasi, Fakultas Farmasi UGM, 1979). &lt;br /&gt;Pemanfaatan :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Komposisi :&lt;br /&gt;Rimpang temu hitam mengandung minyak asiri, tanin, kurkumol, kurkumenol, isokurkumenol, kurzerenon, kurdion, kurkumalakton, germakron, a, ß, g-elemene, linderazulene, kurkumin, demethyoxykurkumin, bisdemethyoxykurkumin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7815043427107780643-6321685234072265378?l=mudeaje.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mudeaje.blogspot.com/feeds/6321685234072265378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mudeaje.blogspot.com/2008/09/nama-lokal-nama-daerah-sumatera-temu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7815043427107780643/posts/default/6321685234072265378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7815043427107780643/posts/default/6321685234072265378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mudeaje.blogspot.com/2008/09/nama-lokal-nama-daerah-sumatera-temu.html' title=''/><author><name>mude aje</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00451268543593313039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_iYALs3CXeYA/SMafLiIkGKI/AAAAAAAAABM/bjGGC8p6pto/S220/foto+mude2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7815043427107780643.post-1769483153990344248</id><published>2008-09-22T08:28:00.001-07:00</published><updated>2008-09-22T08:35:11.853-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CWORKST%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C04%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="Edit-Time-Data" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CWORKST%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C04%5Cclip_editdata.mso"&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="State"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} h2 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	mso-outline-level:2; 	font-size:18.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} a:link, span.MsoHyperlink 	{color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapedefaults ext="edit" spidmax="1027"&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapelayout ext="edit"&gt;   &lt;o:idmap ext="edit" data="1"&gt;  &lt;/o:shapelayout&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;  &lt;h2&gt;Temu Giring Mengusir Cacing&lt;/h2&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;Rabu, 9 Mei 2007 - Dikirim oleh: kj&lt;br /&gt;Rubrik : &lt;a href="http://www.balita-anda.indoglobal.com/news.php?aksi=list&amp;amp;kateg=42"&gt;Kesehatan Balita/ Anak&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;Infeksi cacing tidak selalu menimpa anak-anak. Siapa pun bisa terinfeksi bila pola hidupnya kurang higienis. Untuk mengusir cacing dari saluran pencernaan kita itu bisa digunakan bahan-bahan alami di sekitar kita. Di antaranya temu ireng (hitam) atau temu giring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak berbadan kurus, muka pucat, dan perut buncit, sering langsung divonis cacingan. Kesimpulan macam itu ada benarnya, meski tak seluruhnya benar. Penampilan seperti itu memang merupakan sebagian manifestasi gejala cacingan, yang acap tidak begitu nyata. Tanda-tanda serangan cacing lainnya antara lain gangguan lambung dan usus, seperti mulas-mulas, kejang-kejang, dan diare berkala. Bila dilakukan pemeriksaan rektal, bisa ditemukan adanya gumpalan cacing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;" allowoverlap="f"&gt;  &lt;w:wrap type="square"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/WORKST%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/04/clip_image001.gif" shapes="_x0000_s1026" width="32" align="left" height="32" hspace="8" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; cacing itu bisa pula teraba lewat dinding perut. Jenis yang sering menginfeksi manusia di antaranya cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing kremi (Axyuris vermicularis), cacing pita (Taenia solium/T. saginata), dan cacing tambang americans).(Ancylostoma duodenale dan Nectator&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan cacing itu bisa bikin kurus orang yang jadi induk semangnya lantaran mereka menjarah zat gizi. Di dalam saluran perut setiap 20 ekor cacing dewasa bisa menyedot 2,8 g karbohidrat dan 0,7 g protein dalam sehari. Dengan demikian infeksi berat yang disebabkan beratus-ratus cacing akan mengambil sebagian besar makanan di saluran pencernaan. Karena ulah mereka penderita juga tidak bisa hidup nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusupan makhluk parasit ini diawali dengan masuknya telur mengandung embrio melalui makanan. Lalu menetas menjadi jabang cacing. Dalam kediaman barunya mereka bertelur. Sebagian telur akan melanglang buana menumpang tinja yang melewati "kutub selatan". Bila tinja ini tidak menuju ke tempat yang selayaknya, telur cacing bisa menyebar ke makanan melalui kurir lalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memerangi cacing yang kadung menghuni perut, biasanya digunakan bahan antelmentik (anticacing). &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; dua golongan bahan pelawan cacing itu, yakni vermifuga (obat-obat yang melumpuhkan cacing dalam usus dan cacing yang dikeluarkan dalam keadaan hidup) dan vermicida (obat-obat yang dapat mematikan cacing dalam tubuh). Obat-obat untuk membasmi cacing tadi cukup banyak dijual di pasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bila dirasa terlalu mahal, masih ada alternatif obat lain yang bisa dipilih, yakni dengan memanfaatkan tanaman berkhasiat obat. Saat ini telah diketahui banyak tumbuhan obat yang pernah dan masih digunakan secara tradisional sebagai obat anticacing di Afrika, &lt;st1:place st="on"&gt;Asia&lt;/st1:place&gt;, dan Amerika Latin. Seluruhnya diketahui ada 105 tanaman, di antaranya tumbuh di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Umumnya, tanaman itu digunakan perasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendukung data empiris, uji khasiat secara ilmiah pun dilakukan untuk membuktikan khasiatnya. Dari berbagai pengujian yang telah dilakukan oleh perguruan tinggi dan lembaga penelitian, ada beberapa tanaman obat yang cukup banyak mendapat perhatian. Empat di antaranya adalah temu giring, temu ireng, pepaya, dan pare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih baik diiris&lt;br /&gt;Temu giring (Curcuma heyneana) dan temu ireng (C. aeruginosa) merupakan tanaman obat dari satu famili Zingiberaceae. Namun, keduanya mempunyai kandungan kimia berbeda, terutama kadar minyak atsirinya. Di dalam rimpang kedua temu-temuan ini terdapat zat aktif yang dapat membunuh cacing ascaris seperti halnya piperazin sitrat (obat sintetis yang paling efektif memberantas cacing ascaris).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zat aktif itu adalah minyak atsiri, monoterpen, seskuiterpen. Diduga, mereka bekerja mengantagonis asetilkolin, sehingga menekan kontraksi otot polos. Dari satu penelitian in vitro terbukti, perasan rimpang temu ireng dapat menekan amplitudo kontraksi spontan jejunum (usus kecil) kelinci. Diduga, zat aktif yang bekerja sebagai antelmentik berasal dari minyak atsiri. Mengingat dengan cara sinergis kedua tanaman ini bersifat antelmentik, maka dicoba pula mengkombinasikan kedua tanaman itu sebagai antelmentik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian yang dilakukan Endah Eny Riayati (Fakultas Farmasi, UGM) membuktikan, secara in vitro sediaan rebusan irisan rimpang temu ireng lebih cepat mematikan Ascaridia galli ketimbang rebusan parutan dan rebusan serbuk. Hal ini diperkuat dengan analisis kuantitatif pada kromatografi lapis tipis. Ternyata pada sediaan irisan terdapat bercak dengan intensitas lebih kuat dibandingkan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian lain yang dilakukan Putu Satiawati (Fakultas MIPA, Unair) membuktikan secara in vitro, rendaman cacing Ascaris suum selama 24 jam dalam perasan temu hitam konsentrasi 60% membunuh cacing 68%. Sedangkan dalam perasan temu giring dengan konsentrasi sama, hanya membunuh cacing 36%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daya antelmentik rimpang temu giring terhadap cacing kremi diteliti secara klinis oleh Ade Mardiati Rabia, Jurusan Farmasi, Fakultas MIPA, Universitas Hasanudin pada sejumlah anak-anak panti asuhan. Dengan dosis 2 g secara oral ternyata memberi hasil tak berbeda dengan pirantel pamoat dosis 50 mg/kg bobot badan dalam menurunkan jumlah telur cacing. Sedangkan Prof. Dr. Koesdianto Tantular meneliti khasiat sirup rimpang temu ireng dan temu giring terhadap murid SD kelas 1 sampai kelas 6 di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Dengan dosis 15 ml per hari, setara dengan 25 g bahan segar, mempunyai khasiat sama dengan pemberian membendazol 500 mg dosis tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menggunakannya sebagai obat anticacing gelang diperlukan satu potong empu temu giring/ireng sebesar telur ayam dan ½ gelas air panas. Temu giring/ireng dicuci dan diparut, kemudian disedu dengan air panas. Setelah dingin, seduhan disaring. Untuk anak 3 - 5 tahun diminumkan 1 kali sehari 2 sendok makan, anak 6 - 8 tahun 1 kali sehari 5 sendok makan, anak 9 - 12 tahun 1 kali sehari 8 sendok makan dan dewasa 1 kali sehari ½ gelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seduhan diberikan pagi hari sebelum makan selama tiga hari berturut-turut. Sedangkan untuk menjadikan obat anticacing kremi diperlukan ½ jari rimpang temu giring. Temu itu dicuci, diparut, diberi 1 sendok makan air masak dan sedikit garam, diperas, dan diminum. Ini dilakukan 2 kali sehari selama 3 hari berturut-turut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papain perusak tubuh cacing&lt;br /&gt;Dari tanaman pepaya, hampir semua bagian tumbuhan ini, dari akar, daun, getah, hingga bijinya, secara empiris telah digunakan sebagai antelmentik. Diduga, zat aktif dalam pepaya adalah papain dan karposit. Papain adalah enzim proteolitik yang kita kenal untuk melunakkan daging. Zat itu melakukan proses pemecahan jaringan ikat, yang disebut proses proteolitik. Semakin banyak protein yang dipecah, daging semakin lunak. Sebagai antelmentik papain bekerja seperti dalam melunakkan daging. Papain melemaskan cacing dengan cara merusak protein tubuh cacing. Dalam hal ini, bagian pepaya itu bekerja sebagai vermifuga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa penelitian yang mendukung pemanfaatan pepaya sebagai obat anticacing di antaranya yang dilakukan secara in vitro oleh Atiyah. Dalam penelitiannya digunakan bahan berupa getah yang diperoleh dengan cara menyadap buah muda pepaya tanpa dipetik. Isolasi papain dilakukan dengan membiarkan getah dalam alkohol 80%, sehingga papain akan mengendap. Endapan papain dikeringkan dalam oven bersuhu 50 - 55oC selama enam jam. Uji terhadap Ascaris suilla dilakukan dengan merendam cacing pada larutan papain. Papain secara in vitro bekerja sebagai antelmentik pada dosis 600 mg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerikasaan efek antelmentik papain kasar terhadap cacing lambung (Haemoconthus contortus R.), secara in vivo pada domba jantan terinfeksi, dilakukan oleh Anita Ridayanti. Hasilnya menunjukkan, pemberian papain kasar sampai 0,6 g/kg bobot badan meyebabkan penurunan jumlah cacing dan telurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inong Nuraini, dari Jurusan Biologi FMIPA Unair, dalam penelitiannya membuktikan, secara in vitro pemberian 50% perasan daun pepaya gantung (Carica papaya), sudah menimbulkan efek kematian pada cacing hati sapi (Fasciola gegantica) setelah setengah jam. Bila lamanya mencapai dua jam, semua cacing yang direndam akan mati.&lt;br /&gt;Sementara itu Elita Rahman, dari Jurusan Farmasi FMIPA USU, mencoba membandingkan khasiat antelmentik kulit batang delima putih (Punica granatum) dan perasan daun pepaya secara in vitro. Hasilnya, daun pepaya memepunyai khasiat antelmentik lebih kuat dari kulit batang delima putih pada konsentrasi 30%. Akan tetapi, dibandingkan dengan piperazuin sitrat 0,2%, khasiat kedua tanaman lebih lemah. Kedua tanaman bekerja sebagai vermifuga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memanfaatkan biji pepaya sebagai obat anticacing diperlukan biji pepaya sebanyak 2 sendok makan, dicuci, dan digiling halus. Biji pepaya halus itu disedu dengan ½ cangkir air panas dan diberi 1 sendok makan madu. Setelah suam-suam kuku ramuan diminum 1 kali sehari selama 3 kali berturut-turut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau akar pepaya yang digunakan, diperlukan beberapa potong akar pepaya. Akar pepaya dibersihkan dan dilumat bersama dengan bawang putih, ditambah segelas air, kemudian didihkan sampai diperoleh ½ gelas air. Campuran disaring ke dalam gelas. Minum 2 kali sehari masing-masing ¼ gelas. Ramuan akar pepaya ini hanya untuk mengusir cacing kremi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara bila dipilih daunnya, penggunaannya dengan cara merebus daunnya dalam air mendidih lebih kurang selama 15 menit dan airnya diminum. Bagian daun pepaya yang diduga sebagai anticacing adalah carposide (karposit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menggunakan getah pepaya belum diperoleh pustaka pemakaian empirisnya. Akan tetapi, dari getah pepaya yang diharapkan berkhasiat sebagai antelmentik adalah getahnya yang mengandung papain. Dalam pemakaian empiris hanya disebutkan bahwa dari getah pepaya muda disedu dengan air masak dan diminum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunakan daunnya&lt;br /&gt;Tanaman lain yang cukup mendapat perhatian sebagai antelmentik adalah pare (Momordica charantia L.). Di dalamnya terdapat zat aktif momordisin, momordin, asam trikosanat, dan saponin. Dalam kaitannya dengan cacing, saponinlah yang memiliki daya racun bagi cacing parasit. Tanaman ini bekerja sebagai vermicida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasan daun pare bisa mengusir cacing&lt;br /&gt;Penelitian daya antelmentik daun pare, baik dalam bentuk perasan maupun infus daun segar dan kering, terhadap cacing ascaris dilakukan secara in vitro oleh M.E. Prima Listiani, dari Fakultas Farmasi UGM. Dari penelitiannya terbukti, perasan daun segar mempunyai khasiat antelmentik terbesar. Namun, terhadap waktu kematian cacing tidak lebih baik dari piperazin sitrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iin Kurnia Prabaningtyas dari Fakultas Kedokteran UGM juga membuktikan, secara in vitro perasan daun pare 50% mampu membunuh cacing tambang dalam jumlah yang sama dengan menggunakan pyrantel pamoat 0,236%. Kuswinarti dari Lab. Farmakologi, Fakultas Kedokteran Unpad, membuktikan, secara in vitro nenas muda (Ananas comosus L. Merr), pare, dan daun lidah buaya (Aloe vera L.) pada kadar 80% dapat mematikan cacing Ascaris lumbricoides. Namun, jumlah dan waktu kematiannya berbeda. Buah nenas muda mempunyai efek antelmentik paling kuat, disusul buah pare dan lidah buaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjadikannya obat anticacing diperlukan segenggam daun pare segar, garam secukupnya, dan air ½ cangkir. Cara membuatnya, daun pare dilumatkan dengan air, diperas dengan kain bersih ke dalam gelas. Tambahkan sedikit garam dan diaduk sampai larut. Perasan ini diminum semuanya pada pagi hari sebelum sarapan secara berturut-turut selama 3 hari. (Lucie Widowati, peneliti pada Puslitbang Farmasi, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Depkes&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:state st="on"&gt;RI&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt;.) &lt;/p&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CWORKST%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C05%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="Edit-Time-Data" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CWORKST%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C05%5Cclip_editdata.mso"&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} h2 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	mso-outline-level:2; 	font-size:18.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	font-weight:bold;} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p&gt;pembersih darah setelah melahirkan.&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="width: 375pt;" width="500" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style="height: 14.25pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 341.25pt; height: 14.25pt;" width="455"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none ; padding: 0in;" width="455"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 0.75pt;"&gt;   &lt;td rowspan="3" style="padding: 0in; width: 183.75pt; height: 0.75pt;" width="245"&gt;   &lt;p&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;    &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;    &lt;v:formulas&gt;     &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;     &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;     &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;     &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;     &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;     &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;     &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;     &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;     &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;     &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;     &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;     &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;    &lt;/v:formulas&gt;    &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;    &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt;   &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:169.5pt;"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\WORKST~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\05\clip_image001.jpg" href="http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/gambar/temu_hitam.jpg"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/WORKST%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/05/clip_image001.jpg" shapes="_x0000_i1025" width="226" height="177" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 341.25pt; height: 0.75pt;" valign="top" width="455"&gt;   &lt;h2&gt;Temu Hitam&lt;/h2&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;i&gt;(Curcuma aeruginosa   Roxb.)&lt;/i&gt; &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 14.25pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 183.75pt; height: 14.25pt;" width="245"&gt;   &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sinonim :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;  --&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 14.25pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 341.25pt; height: 14.25pt;" width="455"&gt;   &lt;p&gt;&lt;b&gt;Familia :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;  Zingiberaceae&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 14.25pt;"&gt;   &lt;td colspan="2" style="padding: 0in; width: 525pt; height: 14.25pt;" width="700"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 14.25pt;"&gt;   &lt;td colspan="2" style="padding: 0in; width: 525pt; height: 14.25pt;" width="700"&gt;   &lt;p&gt;&lt;b&gt;Uraian :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;  Temu hitam terdapat di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Burma&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;,   Kamboja, Indocina, dan menyebar sampai ke Pulau Jawa. Selain ditanam di   pekarangan atau di perkebunan, temu hitam juga banyak ditemukan tumbuh liar   di hutan jati, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;padang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;   rumput, atau di ladang pada ketinggian 400--750 m dpl. Terna tahunan ini   mempunyai tinggi 1--2 m, berbatang -semu yang tersusun atas kumpulan pelepah   daun, berwarna hijau atau cokelat gelap. Daun tunggal, bertangkai panjang,   2--9 helai. Helaian daun bentuknya bundar memanjang sampai lanset, ujung dan   pangkal runcing, tepi rata, pertulangan menyirip, warnanya hijau tua dengan   sisi kiri - kanan ibu tulang daun terdapat semacam pita memanjang berwarna   merah gelap atau lembayung, panjang 31--84 cm, lebar 10--18 cm. Bunganya   bunga majemuk berbentuk bulir yang tandannya keluar langsung dari rimpang,   panjang tandan 20--25 cm, bunga mekar secara bergiliran dari kantong-kantong   daun pelindung yang besar, pangkal daun pelindung berwarna putih, ujung daun   pelindung berwarna ungu kemerahan. Mahkota bunga berwarna kuning. Rimpangnya   cukup besar dan merupakan umbi batang. Rimpang juga bercabang-cabang. Jika   rimpang tua dibelah, tampak lingkaran berwarna biru kehitaman di bagian   luarnya. Rimpang temu hitam mempunyai aroma yang khas. Perbanyakan dengan   rimpang yang sudah cukup tua atau pemisahan rumpun. &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7815043427107780643-1769483153990344248?l=mudeaje.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mudeaje.blogspot.com/feeds/1769483153990344248/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mudeaje.blogspot.com/2008/09/v-behaviorurldefaultvml-o.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7815043427107780643/posts/default/1769483153990344248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7815043427107780643/posts/default/1769483153990344248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mudeaje.blogspot.com/2008/09/v-behaviorurldefaultvml-o.html' title=''/><author><name>mude aje</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00451268543593313039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_iYALs3CXeYA/SMafLiIkGKI/AAAAAAAAABM/bjGGC8p6pto/S220/foto+mude2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7815043427107780643.post-281765598787238339</id><published>2008-09-09T08:29:00.000-07:00</published><updated>2008-09-09T08:49:31.003-07:00</updated><title type='text'>HALOOO</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iYALs3CXeYA/SMaY1y-6kII/AAAAAAAAAAQ/Ab9eGBahM7k/s1600-h/foto+mude2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 175px; height: 130px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iYALs3CXeYA/SMaY1y-6kII/AAAAAAAAAAQ/Ab9eGBahM7k/s320/foto+mude2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5244046866105667714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255); font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;it's ME....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Ada cow yang &lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;suka ma gw&lt;/span&gt; yang &lt;span style="color: rgb(204, 51, 204);"&gt;cinta ma cow laen&lt;/span&gt; yang &lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;menyatakan perasaaanya ama cew laen&lt;/span&gt; yang &lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;udah punya cow&lt;/span&gt;,,, &lt;span style="color: rgb(51, 255, 51);"&gt;kejamnyaa duniaaaa,&lt;/span&gt;, &lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;huhhuhhuh..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7815043427107780643-281765598787238339?l=mudeaje.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mudeaje.blogspot.com/feeds/281765598787238339/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mudeaje.blogspot.com/2008/09/halooo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7815043427107780643/posts/default/281765598787238339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7815043427107780643/posts/default/281765598787238339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mudeaje.blogspot.com/2008/09/halooo.html' title='HALOOO'/><author><name>mude aje</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00451268543593313039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_iYALs3CXeYA/SMafLiIkGKI/AAAAAAAAABM/bjGGC8p6pto/S220/foto+mude2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iYALs3CXeYA/SMaY1y-6kII/AAAAAAAAAAQ/Ab9eGBahM7k/s72-c/foto+mude2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
